Fakta24jam. Meranti — Di tengah berbagai persoalan lingkungan yang semakin kompleks, muncul sosok pemuda desa yang memilih berjalan di jalur pengabdian terhadap alam. Namanya Ferenki, seorang aktivis lingkungan yang sejak lama dikenal memiliki kepedulian besar terhadap upaya pemulihan dan pelestarian lingkungan, khususnya di wilayah tempat ia tumbuh dan dibesarkan.

Perjalanan Ferenki tidak bermula dari latar belakang pendidikan tinggi atau fasilitas yang memadai. Ia tumbuh sebagai pemuda desa yang jauh dari kata sempurna. Tidak memiliki pendidikan formal tinggi maupun ijazah yang dapat diandalkan, namun keterbatasan tersebut tidak pernah menyurutkan langkahnya untuk terus belajar dan berbuat bagi lingkungan.
Sejak tahun 2010, Ferenki telah aktif bergerak di bidang lingkungan. Berbagai kegiatan pelestarian alam, pendampingan masyarakat, hingga upaya menjaga kawasan sekitar tempat tinggalnya menjadi bagian dari keseharian yang ia jalani. Baginya, menjaga lingkungan bukan sekadar pekerjaan sosial, melainkan panggilan hidup.
Ketertarikan Ferenki terhadap isu lingkungan semakin mendalam ketika ia mulai melihat persoalan serius limbah sagu di wilayah Kepulauan Meranti. Sebagai daerah penghasil sagu, limbah hasil pengolahan sagu kerap menjadi persoalan yang belum terselesaikan secara optimal. Tumpukan limbah yang mencemari lingkungan mendorong dirinya untuk mencari solusi nyata.
Pada tahun 2020, Ferenki memulai langkah besar yang menjadi titik penting dalam perjuangannya. Ia memusatkan perhatian pada akar persoalan limbah sagu yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai guna. Berbekal tekad kuat dan semangat belajar secara mandiri, ia melakukan berbagai percobaan demi percobaan untuk menemukan jawaban atas masalah tersebut.
Selama hampir satu tahun penuh, Ferenki bersama sejumlah rekan aktivis lingkungan menghabiskan waktu melakukan riset sederhana secara swadaya. Tidak sedikit tantangan yang mereka hadapi, mulai dari keterbatasan alat, bahan percobaan, hingga minimnya dukungan pendanaan. Seluruh proses dilakukan dengan biaya pribadi dan dukungan sukarela dari teman-teman seperjuangannya.
Tak sedikit biaya yang telah dikeluarkan demi mewujudkan inovasi tersebut. Diperkirakan, hampir Rp90 juta dana pribadi telah dikucurkan Ferenki selama proses penelitian berlangsung. Pengorbanan itu dilakukan semata-mata karena keyakinannya bahwa limbah sagu harus bisa diubah menjadi sesuatu yang bernilai bagi masyarakat dan lingkungan.
Usaha panjang itu akhirnya membuahkan hasil. Ferenki bersama tim berhasil menemukan dua inovasi berbasis limbah sagu yang dinilai memiliki nilai ekonomi sekaligus manfaat lingkungan.
Inovasi pertama adalah batako berbahan dasar repu sagu, yakni limbah padat dari pengolahan sagu yang selama ini banyak terbuang dan berpotensi mencemari lingkungan. Melalui serangkaian percobaan, limbah tersebut berhasil diolah menjadi material bangunan alternatif.
Sementara inovasi kedua adalah briket berbahan uyung sagu, yang diolah menjadi sumber energi alternatif ramah lingkungan. Produk ini dinilai memiliki potensi untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar tertentu sekaligus memanfaatkan limbah menjadi produk bernilai jual.
Tidak berhenti sampai di situ, kedua inovasi tersebut kemudian dibawa ke ajang kompetisi internasional. Hasilnya membanggakan, inovasi pengelolaan limbah sagu karya Ferenki dan rekan-rekannya berhasil meraih juara pertama dalam kategori pengelolaan limbah menjadi nilai ekonomi di tingkat internasional.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa inovasi dari desa mampu bersaing di panggung global. Namun di balik pencapaian itu, masih tersimpan harapan besar yang belum sepenuhnya terwujud.
Menurut Ferenki, hingga saat ini inovasi yang ia temukan belum mendapat dukungan optimal dari pemerintah daerah maupun pihak terkait. Ia mengaku telah menemui sejumlah instansi secara langsung untuk menyampaikan gagasan sekaligus meminta dukungan, baik dalam bentuk penyempurnaan teknologi maupun bantuan alat produksi.
“Harapan saya sederhana, bagaimana inovasi ini bisa benar-benar dimanfaatkan masyarakat dan berdampak besar terhadap lingkungan,” ungkap Ferenki.
Meski demikian, dukungan yang diharapkan belum sepenuhnya datang. Bahkan untuk memastikan kualitas produknya, Ferenki pernah melakukan uji kekuatan batako di Universitas Riau (UNRI) Pekanbaru dengan biaya mandiri.
Bagi Ferenki, perjuangan ini bukan hanya tentang menciptakan produk inovatif. Lebih dari itu, ia melihat adanya peluang besar untuk menyelesaikan berbagai persoalan sekaligus. Mulai dari mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah sagu, membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat, hingga meningkatkan nilai ekonomi daerah.
Ia meyakini bahwa limbah yang selama ini dipandang sebagai masalah sesungguhnya dapat menjadi sumber peluang apabila dikelola dengan tepat.
Kini, di tengah segala keterbatasan, Ferenki masih terus menyimpan harapan. Ia berharap ada dukungan serius dari pemerintah, lembaga, dunia usaha, maupun pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan agar inovasi tersebut dapat dikembangkan secara maksimal.
Sebab bagi pemuda desa ini, menjaga lingkungan bukan sekadar cita-cita pribadi, tetapi investasi masa depan untuk masyarakat dan generasi berikutnya.
Dari sebuah desa, dari keterbatasan, dan tanpa banyak kemewahan pendidikan formal, Ferenki membuktikan bahwa kepedulian dan ketekunan dapat melahirkan perubahan nyata. Perjalanannya menjadi pengingat bahwa solusi besar kadang lahir dari tangan-tangan sederhana yang tidak pernah berhenti mencoba.****
Editor….zamri.
![]()
